Total Tayangan Halaman

Selasa, 04 Januari 2011

PERJANJIAN LAMA DAN PERUBAHANNYA

BAB 15 :
PERJANJIAN LAMA DAN PERUBAHANNYA

The History of The Qur’anic Text hal 276 – 286

6. Kebangkitan Yahudi: Sebuah Warisan dari Kemajuan Sastra Islam

i. Pembubuhan Titik dan Pemberian Suara Dipengaruhi oleh Kesuksesan Islam

Dalam hal pemberian suara (vokalisasi)…tidak terdapat tradisi tertulis apa pun tentang simbol-simbol (yakni, tanda-tanda pengenal, diakritik, atau pembubuhan titik, `pointing;) untuk menunjukkan pelafalan atau intonasi dari sebuah teks. Kapan pembubuhan titik bermula atau berasal dari mana, tidaklah diketahui.90
Klaim-klaim awal bahwa hal (pointing dan vokalisasi) ini telah ditemukan pada abad ke-5 M. kini telah terbantahkan. Mencermati bahwa Talmud Babilonia tidak mengandung referensi apa pun mengenai pointing, Bruno Chiesa menempatkan tarikh penemuan itu terjadi antara 650-750 M. Namun dalam hal ini dia berasumsi bahwa Talmud Babilonia disempurnakan pada sekitar tahun 600, yang berarti menjadi sedikit Iebih daripada perkiraan pribadi, dan apa yang henar-benar bisa dia simpulkun hunyalah bahwa pointing bermula setelah itu, dan tidak rentang waktu yang pasti. Memang, Dictionary of the Bible mengusulkan tahun 500, namun Neusner menegaskan bahwa pengeditan final (Talmud Babilonia) yang hanya empat bagiannya saja (dari enam) diselesaikan ± 700. Oleh karena itu, mendasarkan permulaan pointing pada penyelesaian Talmud Babilonia tidak bisa diharapkan. Moshe Goshen-Gottstein,
mengasumsikan suatu waktu di sekitar tahun 700 M. sebagai satu-satunya yang memungkinkan bisa diterima akal. Dia yakin bahwa penciptaan tanda-tanda vowel dan aksen pada dasarnya telah dipengaruhi oleh penaklukan-penaklukan Islam yang dikhawatirkan akan mengancam lenyapnya tradisi pembacaan liturgis yang tepat.91
Tampaknya lucu dan janggal, bahwa vowel-vowel itu diciptakan sebagai sebuah reaksi terhadap ancaman invasi Islam; yang jauh lebih memungkinkan adalah bahwa vowel-vowel itu diciptakan berdasarkan pada sistem vowel bahasa Arab, yang sedang mendapat pengakuan luas pada waktu itu sebagai akibat penyebaran Islam itu sendiri.
Akhirnya mulai abad ketujuh Masehi sebuah sistem tanda-tanda vowel yang ditulis di atas dan di bawah huruf-huruf konsonan diadopsi, barangkali mencontoh penggunaan bahasa Suryani. Sistem ini dalam istilah teknis Yahudi disebut “pointing92
Saya telah memerinci masalah ini secara panjang lebar dalam Bab 10.93 Meski pun terdapat sebuah universitas yang aktif di Nisibis, bersama-sama dengan kolej-kolej dan biara-biara yang didirikan sejak 450 M., bangsa Suria tidak berhasil menciptakan tanda-tanda diakritik hingga tahun 700 M. Lebih dari itu, Hunain bin Ishaq (194-260 H./810-873 M.), bapak tata bahasa Suryani, adalah seorang siswa dari salah satu murid-murid seorang tata bahasa Arab kondang al-Khalil bin Ahmad al-Frahidi (100-170 H./718-786 M.). Silsilah yang demikian telanjang ini menunjukkan bahwa pointing adalah merupakan ciptaan orang Muslim yang diadopsi oleh bangsa Suria, dan dari mereka, bangsa Yahudi.
Tanggal penyertaan vowel-vowel pada huruf-huruf konsonan teks Ibrani itu hanya bisa ditcntukan dalam batas-batas yang sangat longgar. liaik Talmud (± 500 M.) maupun Jerome (420 M.) tidak mengenal apa pun tentang vokalisasi. C.D. Ginsburg mengatakan bahwa pengenalan tantlatanda penulisan terjadi pada ± 650-680 M. dan bahwa karya para tokoh Masorah selesai sekitar 700 M.94
Meskipun saya masih punya keberatan-keberatan tertentu akan keakuratan tanggal-tanggal ini, saya mesti catat dan tegaskan di sini bahwa tanggal tanggal tersebut (sebagaimana diusulkan) adalah benar-benar bertepatan dengan kemunculan Islam. Betapa pun demikian, sebagian besar perhatian kita masih tertumpu pada akurasi sistem pointing ini sebab,
rentang waktu lebih dari satu milenium memisahkan tokoh-tokoh Masorah Tiberia dari masa-masa ketika Ibrani merupakan sebuah bahasa nasional yang hidup dan sama-sama merupakan suatu kemungkinan juga bahwa pelafalan Ibrani telah mengalami beberapa perubahan dalam masa interval ini, terutama mengingat bahwa bahasa Ibrani waktu itu ditulis tanpa vowel… Oleh karena itu, tampaknya perlu mengandaikan adanya sejumlah bentuk-bentuk artifisial yang cukup dalam sistem Tiberia itu, yang berkaitan dengan keinginan para tokoh Masorah untuk membuat pelafalan yang benar yang membuat mereka rentan terhadap pengaruhpengaruh luar, seperti filologi Suryani dan Islam.95

ii. Aktivitas Masoretik Maju di Barat di Bawah Pengaruh Islam
Aktivitas Masoretik maju lagi di Barat dalam periode 780-930 M., karena dirangsang oleh pengaruh Karaite… Sebuah sistem Tiberia baru diciptakan, berdasarkan pada pengalaman sistem Palestina, yang menggabungkan sistem aksen dengan suatu cara menunjukkan nuansa-nuansa yang lebih baik, dan dapat mewakili pelafalan dan intonasi teks biblikal secara rinci dan detail.96
Jika gerakan Karaite,97 sebuah sekte yang timbul di bawah bayangan Peradaban Islam dan pengaruhnya, merupakan stimulus bagi terciptanya sistem Tiberia ini, kita dapat simpulkan bahwa seluruh ide itu berasal dari praktikpraktik sastra Islam. Penggunaan tanda-tanda diakritikal yang terperinci dalam AI-Qur’an (untuk mewakili intonasi yang benar dari setiap kata) sesungguhnya mendahului timbulnya sistem Tiberia ini lebih seratus tahun.98

iii. Talmud dan Pengaruh Islam
Tiga belas abad setelah Exodus (keluaran), literatur rabbinikal berusaha keras ttntuk tnemenuhi kebutuhan akan adanya sebuah penjelasan Kitab Suci dan sekaligus berupaya untuk mengeliminasi kekacauan yang sangat yang timbul akibat banyaknya Misynah yang beredar. Pada akhirnya redaksinya Rabbi Yehuda ha-Nasi, ± 200 M., (sebagaimana yang diubah lebih lanjut oleh para muridnya dan beberapa orang yang tak dikenal) yang menggantikan seluruh koleksi yang lain.99 Talmud pada intinya mengandung Misynah ini, ditambah dengan komentar dan penjelasan lebih lanjut.
Dari sini Talmud dianggap, paling tidak oleh orang-orang Yahudi ortodoks, sebagai otoritas yang tertinggi dalam semua masalah keimanan :.. Komentar-komentar dan penjelasan-penjelasan itu menerangkan apa-apa yang dimaksudkan Kitab Suci, dan tanpa penjelasan resmi ini pesanpesan Kitab Suci akan kehilangan banyak nilai praktisnya bagi bangsa Yahudi … Maka, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Talmud mempunyai otoritas yang sepadan dengan Kitab Suci dalam Judaisme ortodoks.100
Ada dua Talmud yang berhasil dihimpun, Palestina dan Babilonia (yang mendapat kedudukan lebih besar), akan tetapi tanggal penyelesaiannya yang pasti masih sangat diperdebatkan.101 Paling tidak terdapat empat tarikh yang berbeda, 400, 500, 600, dan 700 M., sebagai tanggal disempurnakannya Babylonian Talmud, yang (jika menunjukkan sesuatu) berarti tidak adanya kepastian dan bukti, meski pun jika tarikh yang diherikan Neusner benar maka penyelesaian editing final ini terjadi pada masa Irak Islam dengan bantuan fiqih. Pada kenyataannya komentar dan penjelasan tentang Misynah ini terjadi terus-menerus dan berkelanjutan-sebuah proses yang bahkan pada abad ke-13 M. pun belum berhenti-dengan kultur Islam yang tampaknya memainkan peran yang sangat dominan dalam upaya Yahudi ini. Dalam kata-kata Danby:
Untuk beberapa abad setelah penaklukan Islam, Babilonia senantiasa menjadi pusat utama pendidikan rabbinikal… Kontak dengan ulama-ulama Arab dalam batas tertentu berfungsi sebagai sebuah penyegaran stimulus, dan abad kesembilan dan kesepuluh menyaksikan permulaan studi filologi dan gramatikal tentang literatur Ibrani; dan Hai Gaon merupakan orang yang paling awal membuat komentar tentang Misynah yang masih ada sampai sekarang … Dia hampir secara keseluruhan mengupas, problem-problem bahasa, dan dalam pencariannya untuk derivasi kata kata yang kabur dia lebih banyak merujuk dan menggunakan bahasa Arab. 102
Maimonides (1135-1204), Salah satu tokoh besar Abad Pertengahan, menulis pada awal masa dewasanya sebuah pendahuluan dan komentar bagi seluruh Misynah. Hal ini ditulis dalam bahasa Arab dengan judul Kitab es-Siraj, `The Book of the Lamp’… Tidak puas dengan penjelasan mendetail dia berusaha untuk menyuguhkan kepada para pembaca prinsip-prinsip umum yang menentukan pokok bahasan, dengan begitu dia membuang salah satu kesulitan-kesulitan utama dalam memahami Misynah. 103
Mengintisarikan prinsip-prinsip umum (general principles) yang berhubungan dengan sebuah subjek adalah menggunakan Usul al-Fiqh (Prinsipprinsip Fiqih). Ini adalah merupakan metodologi Islam yang sudah mapan untuk kajian-kajian keagamaan, yang jelas jelas sekali Maimonides mencocokcocokkannya. Dari beberapa contoh ini kita jadi menyadari besarnya perbedaan antara apa yang diduga-duga sarjana-sarjana Barat dan apa yang, dalam kenyataannya, sebenarnya terjadi: orang-orang Islam sering dituduh meminjam tanpa malu-malu dari orang-orang Kristen dan Yahudi, dan bahkan Nabi Muhammad, ketika tidak dituduh `mencuri’ dari sumber-sumber Biblikal, dikatakan sebagai seorang tokoh pengkhayal yang berpegangan pada prototipe Rabbinikal. Pada kenyataannya, orang-orang Yahudi dan Kristen kedua-duanya mengambil manfaat yang sangat besar dari kemajuan-kemajuan metodologi dan budaya Islam, memanfaatkannya untuk mengilhami pencapaianpencapaian masa depan mereka.

7. Menentukan Tarikh untuk sebuah Teks PL yang Tetap dan Otoritatif

i. Qumran dan skrol-skrol Laut Mati: Pandangan Barat

Tentu saja peristiwa biblikal yang paling signifikan akhir-akhir ini adalah penemuan manuskrip-manuskrip di Qumran dan Wadi Murabba’at, dekat Laut Mati, yang bermula pada tahun 1947. Beberapa abad lebih tua daripada material yang sebelumnya dimiliki para sarjana, dan berasal dari suatu era di mana tiada satu pun bentuk teks yang dianggap otoritatif secara absolut, manuskrip-manuskrip ini telah menimbulkan sebuah kegila-gilaan minat.104 Kemajuan pun telah dicapai, yang cukup memuaskan sebagian besar sarjana biblikal, mengenai otentisitas dan usia dokumen-dokumen ini. Gua Qumran dikaitkan erat dengan permukiman Khirbet Qumran yang diratakan-tanah tahun 68 M. pada waktu pemberontakan Yahudi Pertama, dan penelitian arkeologis tentang barang-barang peninggalan (relics) yang didapatkan di dalam gua secara umum menunjukkan periode ini; misalnya, sepotong linen yang dites menggunakan Carbon-14 menunjukkan tarikh antara 167 S.M. dan 233 M. Penggalian-penggalian di tempat itu menyimpulkan sebuah tarikh yang paling memungkinkan bahwa manuskrip-manuskrip di Qumran ditempatkan pada masa pemberontakan Yahudi Pertama ini, 66-70 M.105
Rangkaian gua yang kedua, di Wadi Murabba’at, memiliki sejarahnya tersendiri. Kisah ini bermula pada musim gugur 1951, ketika orang-orang Badui menemukan empat gua di sebuah kawasan hampir dua puluh kilometer sebelah selatan Qumran. Penggalian berikutnya mengungkapkan, “Gua-gua itu dihuni beberapa kali dari tahun 4000 S.M. sampai periode Arab.” 106 Beberapa dari dokumen-dokumen yang ditemukan di dalamnya mengindikasikan bahwa gua-gua ini berfungsi sebagai tempat perlindungan para pemberontak selama pemberontakan Yahudi Kedua. Penggalan-penggalan skrol PL ditemukan di sini juga, walaupun tulisannya lebih maju daripada yang ditemukan di Qumran; sebetulnya, teks di dalam skrol-skrol ini sangat sama dengan teks Masora (yakni, tipe teks yang pada akhirnya telah menggantikan seluruh teks yang lain dan membentuk dasar bagi PL. seperti yang ada sekarang ini).107 Konsensus Barat menetapkan bahwa manuskrip-manuskrip ini “dapat ditentukan tarikhnya dengan pasti pada masa [pemberontakan Yahudi Kedua] (132-135 M.)”.108 Di antara penemuan-penemuan itu terdapat juga skrol Nabi-Nabi Minor yang bertarikh (menurut J.T. Milik) dart abad kedua M., walaupun tulisannya begitu maju yang bahkan “mengandung kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan tulisan manuskrip-manuskrip abad pertengahan… Teks itu hampir sepenuhnya sama dengan [tipe teks Masora], yang berarti bahwa sebuah teks standar yang otoritatif telah ada pada paruh pertama abad kedua Masehi.”109
Setelah memaparkan keterangan-keterangan Wurthwein sendiri yang kontradiktif, di mana dia selalu berpindah-pindah dari menyatakan skrol-skrol Wadi Murabba’at sebagai otoritatif sampai menegaskan bahwa tak ada satu pun teks otoritatif sampai abad ke-10 M., dalam bagian berikut ini saya akan memfokuskan argumen-argumen saya yang membantah termina datum110 Qumran dan Wadi Murabba’at, dengan menyuguhkan bukti yang perlu.

ii. Pendapat Tandingan: Termina Datum Qumran dan Gua-gua Lainnya Salah

Sarjana-sarjana Barat mengklaim bahwa ketika penggalan-penggalan yang ditemukan itu bertentangan dengan teks Masora, maka penggalanpenggalan itu pasti telah ditempatkan di Qumran sebelum pemberontakan Yahudi Pertama (66-70 M.), karena masa tersebut adalah masa dihancurkannya kota dekat Khirbet Qumran oleh serdadu Roma. Penggalan-penggalan yang sepakat dengan teks Masora berasal dari gua di Wad! Murabba’at, yang telah disegel setelah pemberontakan (Yahudi Kedua) Bar Kochba pada tahun 135 M. dengan demikian implikasinya adalah bahwa teks PL distandardisasikan pada waktu tertentu antara 70-135 M.
Tetapi masalahnya dasar kesimpulan ini sendiri adalah salah, sebagaimana yang bisa kita cerna dari dua poin berikut:
Gua-gua itu selalu terbuka dan gampang dijamah (accessible), karena alasan yang cukup jelas bahwa seorang anak muda Badui menemukan skrol-skrol itu tanpa penggalian apa pun. Badui ini, Muhammad Dhi’b, waktu itu berusia lima belas tahun dan boleh jadi seorang penggembala atau penyelundup yang sedang mencari-cari dombanya yang hilang atau sedang berlindung dari hujan. Setelah beberapa temannya bergabung, ekplorasi sambil lalu ini menghasilkan sosok Skrul-skrol Laut Mati; mereka sama sekali tak menggunakan sekop atau kapak (apalagi alat pcrlengkapan yang sophisticated), akan tetapi cukup dengan tangan mereka saja dan mereka mendatangi gua itu lebih dari sekali untuk mendapatkan seluruh kertas-kertas (kulit) itu. Bahkan boleh jadi mereka masuk ke gua itu telanjang kaki. Meski pun gua-gua itu menurut dugaan telah disegel 135 M., hat ini sama sekali tidak mengimplikasikan bahwa tempat ini sulit atau tidak dapat dijamah, mengingat betapa mudah dan kebetulannya skrol-skrol itu ditemukan. Berdasarkan pertimbangan ini dapat kita simpulkan bahwa skrol-skrol itu boleh jadi telah ditempatkan kapan saja, dan bahwa terminum datum 135 M. yang diasumsikan111 tidak punya legitimasi.
H. Shanks dalam review-nya terhadap buku Discoveries in the Judaean Desert, 112 menulis bahwa dua orang dari para pengarangnya (Cross dan Davila) berkeyakinan bahwa salah satu dari penggalan-penggalan Kitab Kejadian yang mereka teliti berasal, bukan dari Qumran seperti yang diinformasikan semula, tapi dari Wadi Murabba’at.
Cross dan Davila mendasarkan kecurigaan mereka tidak hanya pada sebuah analisis paleografis tentang tulisannya, melainkan pada fakta bahwa kulit itu kasar dan dipersiapkan dengan jelek, tidak seperti manuskrip-manuskrip Qumran. Davila menuturkan bahwa Badui itu boleh jadi secara kurang hati-hati telah mencampur-adukkan manuskrip ini dengan penemuan-penemuan (Qumran) mereka. 113
Kecurigaan ini semakin besar akibat sebuah uji-coba Carbon-14 baru baru ini terhadap sebuah artefak (sepotong linen) yang diduga berasal dari Qumran, tetapi yang ternyata tes itu menunjukkan artefak ini berasal dari Wadi Murabba’at, satu hal yang membuat Shanks terheran-heran, “Apa lagi yang dicampur-adukkan Badui itu?”114
Untuk membuktikan secara konklusif skrol mana milik gua mana menjadi sangat sulit. Arkeologi bukanlah ilmu pasti, dalam arti bahwa banyak hal-hal yang bisa dengan mudah ditaf’sirkan dengan tafsiran yang beragam.115.Dan lagi, metode carbon dating (penentuan tanggal menggunakan karbon) yang berbeda jelas-jelas menghasilkan kesimpulan yang berseberangan (kadang sampai hitungan abad), jadi ketepercayaan tes-tes semacam ini tak bisa dijamin.Namun problem terbesar yang dihadapi seseorang dalam memastikan tanggal gua-gua ini adalah adanya penggalan-penggalan berbahasa Arab yang juga ditemukan dalam gua yang sama di Wadi Murabba’at, atau yang terdekat dengannya (keraguan selalu menyelimuti penggalan-penggalan mana yang berasal dari gua mana). Lebih dari itu, salah satu dari penggalan-penggalan (fragmen) yang berbahasa Arab ini memiliki tanggal Hijriah yang sangat jelas, 327 H. (938 M.; lihat Gambar 15.2).116 Penggalan ini berbunyi:117



Gambar 15.2: Sebuah fragmen berbahasa Arab ditemukan di dalam sebuah gua di Wadi Murabba `at dengan tanggal Hijriah yang jelas, 327H./938 M. Sumber: Eisenman dan Robinson, A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Vol. l, plate No. 294.
Terjemahannya:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Saya telah mengumpulkan (penggalan ini) dari para pewaris Abu Ghassan pajakpajak yang harus dibayar dari harta milik Sanun, berjumlah sepertiga atau seperdelapan dari satu dinar untuk tahun tiga ratus dua puluh tujuh. Ditulis oleh Ibrahim bin Hammaz pada bulan Rabi’ al-Awwal dari tahun yang sama, dan saya bertawakal pada Allah.
Tujuh fragmen berbahasa Arab itu semuanya telah direproduksi dalam Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls; satu-satunya yang tersebut di atas adalah yang paling bisa dibaca dan komplet. Paling tidak lima fragmen herbahasa Arab yang lain, salah satunya termasuk panjang, ditemukan di dalam gua Wadi Murabba’at namun oleh para pengarang (buku tersebut) dianggap tidak sesuai untuk dimasukkan dalam edisi ini, meski pun kelimanya telah direproduksi di tempat yang lain.118
Apa pun penjelasan yang ada tentang frag+nen-fragmen berbahasa Arab ini – bahwa gua-gua itu tak pernah benar-benar disegel, atau disegel tapi ditemukan kembali lebih dari sepuluh abad yang lalu, atau bahwa beberapa bagiannya disegel dan yang lain tidak – kenyataannya adalah bahwa secara pasti tidak satu pun dari fragmen-fragmen PL yang bisa dimasukkan secara definitif ke dalam salah satu dari dua periode emas 66-70 M. dan 132-135 M.119 Hal ini menjelaskan pernyataan J.T. Milik mengenai Skrol Nabi-Nabi Minor, “Bahkan di sana terdapat kesamaan-kesamaan yang mencolok dengan tulisan manuskrip-manuskrip abad pertengahan.”120 Jika fragmen berbahasa Arab dari abad ke-10 M. terletak di dalam gua-gua ini, kiranya apakah yang menghalangi seseorang dari meletakkan fragmen-fragmen PL pada abad mana pun yang mengiringi dan/atau pada abad ke-10 M.? Penggalian-penggalian dari tahun 1950-an telah menyimpulkan bahwa gua-gua ini telah “dihuni berkali-kali dari tahun 4000 S.M. sampai dengan periode Arab”,121 jadi kecuali kalau implikasinya adalah bahwa orang-orang Yahudi seluruhnya memang telah menjauhi gua-gua ini sejak 135 M. sampai abad ke-20), padahal kenyataannya orang-orang Islam abad pertengahan bisa memasukinya, maka premis penentuan tanggal adalah sepenuhnya tak berlaku. Bukti apakah yang dapat menunjukkan bahwa tidak ada seorang Yahudi pun yang masuk ke ,Wadi Murabba’at pada tahun 351, atau 513, atau bahkan 700 M.?122
Assessment permulaan para sarjana, seperti Prof Diver dari Oxford, pada awalnya menentukan tanggal Skrol-Skrol Laut Mati pada abad ke-6/7 M.123 Dan hal ini bukanlah sama sekali suatu fenomena yang tak lazim berlaku: sebuah fragmen Imamat yang diambil dari Qumran, dan ditulis dalam tulisan Ibrani Kuno, telah menimbulkan ketakutan besar di kalangan para sarjana mengenai tanggal asal-usulnya. Beberapa pendapat berkisar antara abad ke-5 sampai pertama S.M., dengan kesepakatan akhir bahwa kemungkinan bisa berasal dari abad pertama M., yang dengan begitu telah memberikan fragmen ini sebuah kelonggaran enam ratus tahun.124 Berdasarkan pada bukti konkret di atas, keyakinan bahwa teks PL telah distandardisasikan antara 70-135 M adalah sepenuhnya tak dapat dipertahankan.
The History of The Qur’anic Text hal 286 – 294

8. Beberapa Contoh Utama Perubahan Teks yang Disengaja

Mari kita teliti suatu bagian dalam PL yang saya yakin menggambarkan sebuah perubahan awal yang disengaja, khususnya, pasal Tujuh Belas dari Kejadian. Istri Abraham, Sarah, memberi hambanya yang bernama Hagar “untuk menjadi istrinya”, dan darinya lahirlah anak laki-laki pertamanya Ismail. Kami mengambil kisah ini tiga belas tahun kemudian.
Kejadian 17 (Versi King James)
1 Dan Ketika Abram berusia sembilan puluh sembilan tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, Akulah Tuhan Yang Maha Kuasa; berjalanlah mengikuti Aku, dan jadilah orang yang sempurna.
2 Dan Aku akan membuat perjanjian-Ku antara Aku dan engkau, dan memberikan kepadamu keturunan yang banyak.
3 Kemudian sujudlah Abram: dan Tuhan berkata,
4 Inilah perjanjian yang Ku-buat dengan engkau: dan engkau akan menjadi bapak banyak bangsa.
5 OIeh karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham,
6 Dan Aku akan memberikanmu banyak anak-cucu, dan di antara mereka akan ada yang menjadi raja-raja. Keturunanmu akan begitu banyak, sehingga mereka akan menjadi banyak bangsa.
7 Aku akan memenuhi janji-Ku kepadamu dan kepada keturunanmu, turun-temurun, dan perjanjian itu kekal, Aku akan menjadi Tuhanmu dan Tuhan keturunanmu.
8 Aku akan memberikan kepadamu dan kepada keturunanmu, tanah ini, yang engkau diami sebagai orang asing, seluruh tanah Kanaan akan menjadi milik anak cucumu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Tuhan mereka.
9 Tuhan berkata kepada Abraham, Engkau pun harus setia kepada perjanjian-Ku, baik engkau maupun keturunanmu turun-temurun.
10 Ini adalah perjanjian-Ku, yang harus kau taati, antara Aku dan engkau dan keturunanmu; Setiap anak laki-laki dari keturunanmu harus disunat.
11 Dan engkau akan menyunat daging kulupmu; dan sunat ini akan menjadi sebuah tanda perjanjian antara Aku dan engkau.
14 Setiap laki-laki yang tidak disunat, ruhnya akan diputus dari masyarakatnya; karena dia telah melanggar perjanjian-Ku.
15 Dan Tuhan berkata kepada Abraham, Mengenai Sarai istrimu, engkau jangan lagi memanggilnya Sarai, mulai sekarang namanya Sarah.
16 Aku akan memberkatinya dan la akan melahirkan seorang anak lakilaki yang akan Kuberikan kepadamu. Ya, aku akan memberkatinya, dan ia akan menjadi ibu leluhur bangsa-bangsa. Di antara keturunannya akan ada raja-raja.
17 Lalu sujudlah Abraham, tetapi tertawa, dan berkata dalam hati, Mana mungkin seorang laki-laki yang sudah berumur seratus tahun mendapat anak? Mana mungkin Sarah melahirkan pada usia sembilan puluh tahun?
18 Dan berkatalah Abraham kepada Tuhan, Sebaiknya Ismael saja yang menjadi ahli warisku.
19 Tetapi Tuhan berkata, Tidak, Sarah istrimu akan melahirkan anak laki laki; dan engkau akan memanggilnya Ishak: dan Aku akan setia kepada perjanjian-Ku dengan anak itu dan dengan keturunannya untuk selamanya.
20 Tetapi Aku mengabulkan juga permohonanmu mengenai Ismael: Karena itu dia akan Kuberkati dan Kuberi keturunan yang banyak. la akan menjadi leluhur dua belas kepala suku, dan keturunannya akan Kujadikan suatu bangsa yang besar.
21 Tetapi perjanjianku akan Kuikat dengan Ishak, anakmu yang akan dilahirkan oleh Sarah, tahun depan kira-kira pada waktu seperti ini.
22 Setelah selesai berkata begitu, Tuhan meninggalkan Abraham.
23 Pada hari itu juga, Abraham rnenyunatkan Ismael anaknya, dan semua orang laki-laki dalam rumahnya, termasuk para hamba yang lahir di dalam rumahnya, maupun yang dibelinya, sebagaimana telah diperintahkan Tuhan.
25 Dan Ismael anaknya, berumur tiga belas tahun ketika disunatkannya.
26 Abraham dan Ismael anaknya, disunat pada hari yang sama.125
Pembaca yang objektif akan menangkap sebuah problem dari narasi ini. Tuhan berjanji, menegaskan, dan meyakinkan Abraham berulang-ulang mengenai perjanjian-Nya, yang simbolnya adalah sunat. Sekarang, anak laki-laki satu-satunya yang dimiliki Abraham pada waktu itu adalah Ismael, seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun, dan ayah maupun anak disunat pada hari yang sama. Terlepas dari apakah Isrnael disunatkan atau tidak, bagaiman:+ pun juga dia sepenuhnya disingkirkan dari perjanjian itu – dan tanpa alasan yang bisa dimengerti. Tuhan menyingkirkan seorang anak laki-laki dari perjanjian-Nya dengan melawan perintah-Nya sendiri.
Kembali kepada Kejadian, dalam 17:16-21 Abraham diberi kabar gembira bahwa Sarah akan mempunyai seorang anak bernama Ishak “tahun depan kira-kira pada waktu seperti ini”. Tapi pada pasal 18 kita baca:
10. Dan [Tuhan] berkata, Aku tentu akan kembali kepadamu pada suatu masa nanti; dan pada waktu itu, Sara istrimu akan mendapat anak lakilaki. Pada saat itu Sarah sedang mendengarkan di pintu kemah, di belakang tamu itu.
11. Adapun Abraham dan Sarah sudah sangat tua, dan Sarah sudah mati haid.
12. Sebab itu Sarah tertawa dalam hatinya dan berkata, Aku yang sudah tua dan layu begini, mana mungkin masih ingin campur dengan suamiku, lagi suamiku pun sudah tua juga?
13. Lalu Tuhan bercakap kepada Abraham, Mengapa Sarah tertawa dan meragukan apakah ia masih bisa melahirkan anak pada masa tuanya?
14. Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Pada waktu yang telah ditentukan Aku akan kembali kepadamu, dan Sarah akan mendapat anak laki-laki.
Berita itu membuat Sarah terkejut luar biasa yang sehingga mendadak tertawa Akan tetapi diskusi yang sama ini pernah terjadi dalam pasal sebelumnya: Tetapi Tuhan herkata, tidak, Sarah istrimu akan melahirkan anak laki-laki; dan engkau akan memanggilnya Ishak: dan Aku akan setia kepada perjanjian-Ku dengan anak itu dan dengan keturunannya untuk selamanya. Jika narasi itu telah menegaskan, maka Sarah tak ada alasan untuk terkejut di dalam pasal yang berikutnya. Bahwa dia ternyata benar-benar tidak punya pengetahuan sebelumnya tentang peristiwa ini menunjukkan bukti kuat bahwa telah terjadi interpolasi (tahrif) yang disengaja terhadap ayat-ayat dalam Kejadian 17 ini, yang tujuannya untuk menyingkirkan Ismael dari perjanjian Tuhan terlepas dia disunatkan atau tidak.
Mari kita alihkan perhatian kita kepada Josephus. Awalnya dia menjelaskan Ismael sebagai anak laki-laki pertama Abraham, kemudian tiba-tiba mengklaim Ishak sebagai anak laki-laki Abraham yang sah, dan keturunan satu-satunya.126 Atas dasar apakah Ishak menjadi anak laki-laki yang sah dengan mengesampingkan Ismael? Apakah hal itu berimplikasi bahwa Ismael menjadi anak yang tak sah, dan (kemudian) Abraham berzina? Tujuan Josephus tidak jelas, yang jelas hanyalah bahwa dia merefleksikan ketidaksukaan PL terhadap Ismael-suatu ketidaksukaan yang juga terbaca secara telanjang di beberapa ayat yang lain. Dalam Kejadian 22:2 kita dapatkan:
Dan Tuhan berkata, Pergilah ke tanah Moria dengan Ishak, anakmu yang tunggal, yang sangat kaukasihi; di situ, di sebuah gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu, persembahkan anakmu sebagai kurban bakaran kepada-Ku.
Bagaimana mungkin Ishak menjadi satu-satunya anak laki-laki, padahal Ismael waktu itu paling tidak berusia tiga belas tahun? `Paling terkasih’ mungkin bisa dipahami, karena dua anak jelas tak mungkin sama. Dan jika ayat ini mengisyaratkan bahwa Ishak adalah anak satu-satunya yang sah, karena ibu Ismael adalah seorang hamba, maka bagaimana dengan dua belas anak laki-laki Yakub, yang semua mempunyai status yang sama sebagai nenek-moyang dua belas suku bangsa Israel, terlepas apakah mereka lahir dari istri atau gundik? Menurut hemat saya ini adalah kasus lain perubahan teks dalam PL yang sangat jelas, yang barangkali termotivasikan oleh kebencian bangsa Israel yang luar biasa terhadap anak cucu Ismael. Animositi ini kelihatan begitu lebih mencolok dalam Mazmur 83, yang beberapa ayatnya di sini disuguhkan menurut Versi Revisi Standar (Revised Standard Version):
1 Ya Tuhan, janganlah rnembisu, jangan berpangku tangan dan tinggal diam.
2 Lihatlah, musuh-Mu bergolak, orang-orang yang membenci Engkau berontak.
4 Kata mereka, Mari kita hancurkan bangsa Israel, supaya nama mereka tak diingat lagi.
5 Ya, mereka membuat rencana licik dan bermufakat melawan Engkau -
6 bangsa Edom dan Ismael, orang-orang Moab dan Hagar,
7 bangsa Gebal, Amon dan Amalek….
13 Ya Tuhanku, hamburkanlah mereka seperti debu, seperti jerami yang ditiup angin.
17 Biarlah mereka selamanya dipermalukan dan ketakutan, biarlah mereka mati dalam kehinaan.127
Bisakah para juru tulis Yahudi, dengan memendam kebencian yang demikian historis terhadap anak cucu Ismael, menunjukkan kemurahan (atau bahkan keadilan atau kejujuran) terhadap Ismael sendiri dalam mentransmisikan teks PL? Ataukah mereka menganggap Ismael sebagai `tak diperanakkan’ (unbegotten), inferior, dan dalam proses ini menaikkan derajat dan citra nenek-moyang mereka sendiri, Ishak, selama memang ada kesempatan untuk berbuat seperti itu?128 Kemungkinan-kemungkinan seperti ini layak mendapat perhatian yang serius.
Dikucilkan dari perjanjian, bagaimana pun juga, bukanlah hanya nasib Ismael, melainkan juga masih yang harus diterima separuh kerabat Ishak, sebagaimana bisa dilihat dari dimasukkannya `Edom’ kedalam ayat 6 di atas. Berdasarkan pada PL, Ishak mempunyai dua anak laki-laki:129 (a) Esau (atau Edom), yang dilahirkan pertama kali dari rahim, dan (b) Yakub, yang merupakan nenek-moyang dua belas suku Israel.Cukup mengundang tanda tanya, Yakob berhasil menipu saudara lakilakinya dua kali: pertama ketika menolak memberikan sup kacang merah kepada Esau kecuali jika ia rnelepaskan haknya sebagai anak yang lahir pertama, padahal dia sedang dalam keadaan terancam kolaps akibat kelaparan;
130 kedua, ketika Yakob dan ibunya mencuri pemberkatan yang sebetulnya dimaksudkan untuk Esau dengan menipu Ishak secara licik, melibatkan rambut palsu karena tangan Esau berambut lebih tebal daripada tangannya.131Meskipun dengan cara penipuan seperti ini, keturunan Yakob dianggap sebagai nenek-moyang suku-suku Israel sementara anak-cucu Esau tidak mempunyai bagian apa pun.
Orang-orang Israel sadar bahwa orang-orang Edom adalah kerabat dekat mereka dan lebih tua… [Perseteruan antara Esau dan Yakob] adalah retleksi aktual hubungan bermusuhan orang-orang Edom dan Israel, yang sebagian besarnya disulut oleh yang kedua.132
Dengan perseteruan historis yang terus berkecamuk ini, barangkali tidak mengherankan bahwa kata-kata final Tuhan kepada Musa melompati namanarna Isrnael dan Esau:
Musa, Inilah negeri yang Kujanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakob untuk diserahkan kepada keturunan mereka. Aku memperlihatkannya kepadamu, tetapi tidak mengizinkan engkau menyeberang Yordania dan masuk ke sana.133
Pada tahap pertama Ismael diusir dari perjanjian, dengan alasan Tuhan telah merencanakan demikian agar memasukkan keturunan Abraham hanya melalui Ishak saja. Selanjutnya, bahkan ini pun tak sepenuhnya benar, karena separoh keturunan Ishak dicampakkan dari perjanjian melalui upaya licik Yakob, yang dengan begitu memperoleh perjajian untuk dirinya sendiri dan kedua belas anaknya – baik lahir dari istri maupun gundik.134 Pengucilan lsmael beserta keturunannya, dan Esau beserta keturunannya, tampaknya merupakan sebuah pemalsuan sistematis yang berasal dari sumber-sumber yang sangat memihak pada Yakob dan keturunannya saja.Jika seseorang berdalih bahwa oleh karena perjanjian adalah kasih sayang dan hadiah Tuhan, maka Tuhan mempunyai hak penuh untuk memberikannya kepada siapa saja dan mengecualikan siapa saja yang la inginkan. Akan tetapi pengecualian yang menimpa Ismael dan Esau tidak sesuai dengan proklamasi Tuhan sendiri: “Dan Aku akan memberikan kepadamu dan kepada keturunanmu, tanah ini, yang sekarang engkau diami sebagai orang asing, seluruh tanah Kanaan, untuk selama-lamanya.”135 Fakta historis adalah bahwa `seluruh tanah Kanaan’ tidak dikuasai orang Israel lebih dari 250 tahun, bermula dari masa Daud (± 1000-962 S.M. ) dan herakhir dengan penyeuhan Samara dan jauhnya kerajaan Israel utara (721 S.M.). Janji Tuhan mengenai kepemilikan abadi, dalam hal ini, jelas jelas bertentangan dengan realitas sejarah. Seseorang harus menafikan salah satunya, proklamasi Tuhan atau ayat-ayat palsu yang mengusir Ismael dan keturunannya. Dan jika kita pilih menafikan yang kedua maka janji Tuhan benar-benar telah terpenuhi, karena Kanaan senantiasa dalam kepemilikan Anak cucu Abraham.
Sebuah bagian singkat dari Kejadian 13 menjelaskan lebih lanjut ide ini:
14 Setelah Lot pergi, Tuhan berkata kepada Abraham, Dari tempat engkau berdiri itu, pandanglah baik-balk ke segala arah, utara, selatan, timur, dan barat:
15 Aku akan memberikan kepadamu dan kepada keturunanmu seluruh tanah yang engkau lihat itu supaya menjadi milikmu selama-lamanya.
16 Aku akan membuat keturunanmu sangat banyak laksana debu tanah: sehingga orang sanggup menghitung mereka. Sebagaimana orang tak dapat menghitung debu di tanah, demikian juga keturunanmu tidak akan dapat dihitung.136
.
Bagian ini, dan yang serupa di dalam Kejadian 15, memberikan bobot tambahan mengalahkan ayat-ayat bikinan dalam Kejadian 17. Sepanjang sejarah, bangsa Israel jauh lebih sedikit dibanding bangsa Arab, anak cucu Ismael, sehingga sebutan `debu tanah’ tidak bisa digunakan untuk mendeskripsikan hanya mereka saja. Sejarah memaksa kita untuk memandang pengucilan Ismael dari Perjanjian Tuhan sebagai sebuah distorsi yang disengaja yang disulut oleh sikap prejudis.

9. Kesimpulan

Dalam masa berabad-abad yang berselang antara naiknya Musa ke Gunung Sinai dan standardisasi akhir sebuah teks Ibrani, teks itu tidak bisa terelakkan dart kesalahan-kesalahan, perubahan-perubahan, dan pemalsuanpemalsuan dengan tidak adanya mukjizat. Dan memang, setiap wajah sejarah Israel agaknya menegaskan bahwa tidak pernah ada mukjizat seperti itu. Kita dapat dengan mudah mengamati bahwa situasi politik di Palestina, bahkan dalam masa hadirnya sebuah negara Yahudi yang bersatu pun, tidaklah menguntungkan bagi perkembangbiakan PL yang dapat dianggap patut dan sakral; jarang sekali seorang raja memberikan kecintaan dan ketulusan kepadanya, malahan mayoritas raja-raja itu mendirikan patung-patung dan sebagian bahkan melakukan ritual-ritual pagan korhan anak dsb..Di atas itu semua, teks itu sendiri menghilang berulang-ulang, dan selama berabad-abad pada suatu waktu.
Dasar-dasar budaya kesusastraan dan keagamaan Yahudi itu sendiri berasal dari masyarakat-masyarakat lain, yang menyebabkan infiltrasi lebih jauh ke dalam PL mulai dari permulaan sejarah bangsa Israel yang paling awal. Misalnya: (a) bahasa lbrani dipinjam dari bangsa Funisia; (b) orang-orang Yahudi tidak mengembangkan tulisan mereka sendiri, tapi sekadar menyesuaikannya dengan Aram dan Asyur; (c) sistem diakritik Taurat Ibrani dipinjam dari bahasa Arab; (d) Kitab Perjanjian (secara umum Keluaran 20:2223:19) kemungkinan diadaptasi dari Kode Hammurabi, dan seterusnya.
Teks itu sendiri masih senantiasa cair (fluid) sampai abad ke-10 M., hampir 2300 tahun setelah wafatnya Musa: cair dalam arti bahwa teks itu masih terbuka untuk perubahan-perubahan sesuai dengan justifikasi doktrinal yang cukup. Dan sekali perubahan itu sempurna, yang asli jadi `cacat’ dan dirusak, yang sehingga menghapus semua jejak yang mungkin mengantarkan kembali kepada sesuatu yang lebih tua dan utuh.
Memperhatikan Al-Qur’an, kita mencatat ayat: 137




“Mereka yang mengikuti seorang Rasul, Nabi yang buta huruf, yang mereka temukan tertulis dalam [kitab-kitab suci]mereka, dalam Taurat dan Injil… “

yang secara eksplisit menyatakan bahwa bahkan teks-teks PL dan PB yang telah diubah pun mengandung referensi-referensi tentang nabi yang akan datang. Referensi-referensi semacam itu telah dilihat oleh beberapa Sahabat Nabi dan para khalifah,138 tetapi sejak itu kemudian dibersihkan secara besarbesaran.139
Saya akan mengakhiri pasal ini dengan dua kutipan yang menarik:
Mitos sentral Yudaisme klasik adalah kepercayaan bahwa Kitab-kitab Suci kuno merupakan wahyu ketuhanan, tapi hanya sebagian darinya. Di Sinai Tuhan telah menyampaikan wahyu dobel: bagian tertulis yang diketahui semua, dan bagian yang hanya dipelihara oleh para pahlawan besar skriptural, dan disampaikan oleh para nabi kepada para Leluhur pada masa lalu yang tidak jelas, dan akhirnya secara terbuka disampaikan kepada para rabi yang menulis Talmud Palestina dan Babilonia.140
Dengan material [Qumran] berada di tangan mereka, para ahli yang concern dengan kajian teks… bertugas membuktikan bahwa sebenarnya teks itu masih senantiasa tidak berubah selama dua ribu tahun yang lalu.141
Berdasarkan sejarah PL, sebagaimana yang telah kita lihat, pernyataan pernyataan di atas tidak lebih daripada sekadar angan-angan (wishful of thoughts) belaka.
Dalam paragraf-paragraf dan halaman-halaman ini, terdapat banyak hal yang bisa dikontraskan dengan penghormatan orang Islam terhadap Al-Qur’an, meskipun pembaca yang tanggap tentu telah melakukannya, dan sebetulnya masih ada santapan bagi pemikiran yang lebih banyak lagi ketika kita mencermati PB berikut ini.
————————–
foot note:
90. Ibid, hlm. 21.
91. Ibid, hlm. 21.
92. Ibid, hlm. 22; cetakan miring ditambahkan.
93 Lihat buku ini hlm. 158-161.
94. Dictionary of the Bible, hlm. 972.
95. Wurthwein, hlm. 26-7. Cetakan miring ditambahkan.
96. Ibid, hlm. 24.
97. Menurut Y. Qojman [Qamus `Ibri-`Arabi, Beirut, 1970, hlm. 835] `ini adalah sebuah sekte Yahudi yang hanya percaya pada Taurat dan menolak Talmud.’
98 Bagaimanapun juga, pengaruh Islam pada masyarakat Yahudi tidak terbatas pada beberapa kemajuan seperti ini saja, akan tetapi ia merupakan katalisator bagi suatu kebangkitan yang luar biasa yang menyentuh seluruh aspek budaya Yahudi. Kemajuan peradaban Islam Abad Pertengahan dalam segala hal memfasilitasi evolusinya Yudaisme menjadi budaya religius yang ada dewasa ini. Tradisitradisi dan ritual-ritual sinagog, bersama dengan framework hukum yang mengatur kehidupan Yahudi, semuanya distandarisasikan; dasar-dasar pemikiran filosopis Yahudi, termasuk buku Sa’adya yang berjudul Book of Beliefs and Opinions (± 936) dan buku Maimonides yang berjudul Guide to the Perplexed (1190), juga ditulis pada masa ini. Lihat Norman A. Stillman, The Jews of Arab Lands: A History and Source Book. The Jewish Publication Society of America, 1979, hlm. 40-41, di mana pengarang ini menukil sumber-sumber Yahudi yang banyak sekali.
99. Dictionary of the Bible, hlm. 954.
100 Ibid, hlm. 956.
101. Lihat buku ini halaman 276-7.
102. H. Danby (pent.), The Mishnah, Pendahuluan, hlm. xxviii-xxix. Penegasan ditambahkan
103. Ibid, hlm. xxix.
104. Wurthwein, hlm. 31-2.
105. Ibid, hlm. 31.
106. Ibid, hlm. 164.
107. Ibid, him. 31, catatan kaki 56.
108. Ibid, hlm. 31, catatan kaki 56. Saya masih belum mendapatkan alasan di balik “kepastian” ini.
109. Ibid, hlm. 164.
110. Terminal dates’ menandakan titik-titik penghentian yang mana setelahnya tak ada lagi kertas-kertas (kulit) yang ditempatkan di dalam gua-gua ini.
111. Lihat Wurthwein, hlm. 164.
112. E. Ulrich, F.M. Cross, 1.R. Davila, N. Jastram, J.E. Sanderson, E. Tov dan J. Strugnell, Discoveries in the Judacan Desert, Vol. Xll, Qumran Cave 4 – VII: Genesis to Numbers, Clarendon Press, Oxford, 1994.
113. H. Shanks, “Books in Brief“, Biblical Archaeology Review, Sep./Okt. 1995, vol. 21, no. 5, hlm. 6, 8.
114. Ibid, hlm. 8.
115. Sebuah analisis detail mengenai masalah ini, termasuk berlusin-lusin kasus uji-coba, lihat buku saya yang akan terbit Islamic Studies: What Methodology.,
116. R.H. Eisenman dan J.M. Robinson, A Facsimile Edition of the Dead Sea Scrolls, Biblical Archaeology Society, Washington, DC, 1991, Vol. l, plate No. 294. Untuk sampel-sampel lebih lanjut lihat plates Nos. 643-648.
117. Mahmud al-’ Abidi, Makhtutat al-Bahr al-Mayyit, ‘Amman, Jordan, 1967, hlm. 343.
118. Ibid, hlm. 342-346.
119. Kertas-kertas kulit yang diambil dari Qumran, yang kadang-kadang berbeda secara mencolok dengan teks Masora, ditulis oleh anggota-anggota komunitas ESSENE. Ini adalah golongan biarawan/wati yang berusaha mempraktikkan Yudaisme yang sangat ketat, misalnya meyakini bahwa “isi perut harus tidak melakukan fungsi-fungsi kebiasaannya” pada hari Sabtu (Sabbath). [Dictionary of the Bible, hlm. 268.] Menghilangnya golongan ini pada akhirnya bermakna bahwa seluruh material dari Qumran yang menyusul varian-varian teks yang lebih disukai golongan ESSENE, mesti telah ditulis semasa golongan ini masih hidup. Di sisi lain, teks-teks Wadi Murabba’at kurang lebih serupa dengan satu tipe teks yang masih senantiasa beredar, dan dengan begitu boleh jadi berasal dari suatu masa yang mengiringi abad-abad pertengahan.
120. Lihat Wurthwein, hlm. 164.
121. Ibid, hlm. 164.
122. Hal ini adalah sangat mungkin, karena “beberapa grup Yahudi kemungkinan masih senantiasa tinggal di Palestina selama dalam kekuasaan orang Islam”. [Dictionari of the Bible, hlm 720.]
123. Lihat M. al-’Abidi, Makhtutat al-Bahr al-Mayyit, hlm. 96-101.
124. Wurthwein, hlm. 160.
125. Penegasan ditambahkan.
126. Josephus, Antiq., Buku I, Fasal 12, No. 3 (215), dan Kitab l, Fasal 13, No. 1 (222)
127. Penekanan ditambahkan.
128. Sekali lagi saya mengutip buku Wurthwein The Text of the Old Testament: “Terdapat bukti yang jelas bahwa tak ada rasa bersalah sedikit pun dalam mengubah teks ketika agaknya di sana terdapat alasan doktrinal yang cukup,” hlm. 17.
129. Kejadian 25:23-26.
130. Kejadian 25:29-34.
131. Kejadian 27.
132. Dictionary of the Bible, hlm. 229.
133. CEV, Ulangan 34:4.
134. Delapan dari dua belas orang anak ini dilahirkan dari dua orang istrinya, dan empat orang lainnya dari dua orang gundiknya. Untuk detailnya lihat buku ini hlm. 236-7.
135. Kejadian 17:8. Cetakan miring dari penulis.
136. Kejadian 13:14-16; penegasan ditambahkan. Lihat juga Kejadian 15:3-5.
137. Qur’an 7:157.
138. Untuk Iebih detail, lihat Ibn Kathir, Tafsir, iii:229-234.
139. Meskipun begitu masih terdapat beberapa jejak yang tertinggal. Lihat Yusuf, Translation of Holy Qur’an, catatan kaki 48:29.
140. J.Neusner, The Way of Torah, hlm. 81
141. Geza Vermes, The Dead Sea Scrolls in English, Pelikan Book, edisi ke-2, 1965,hlm. 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar